Senin, 06 Maret 2023

Filsafat Penilaian Pendidikan Bahasa Inggris

     Secara etimologi, kata filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafah yang diambil dari bahasa Yunani yaitu Philosophia, kata majemuk yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana. Dari kata inilah lahir kata philosophy  dalam bahasa Inggris, yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”. Sedangkan secara terminology, filsafat memiliki arti yang bermacam-macam diantaranya menurut Plato (477-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai kebenaran  yang  asli.  Sejalan  dengan  hal  itu,  Aristoteles  (381-322  SM)  mengatakan  bahwa filsafat  adalah  ilmu  yang  meliputi  kebenaran  yang  terkandung  di  dalamnya  ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Dari kedua pendapat filsuf besar tersebut dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang apa yang ada disebalik yang ada. Al-Farabi (870-950 M), seorang filsuf muslim juga mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-ilmu bil maujudat bi ma hiya al-maujudat). Sehingga dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran, mengerahkan segala pemikiran dan usaha untuk mencari apa yang terdapat disegala yang ada sehingga mencapai pengetahuan yang sebenarnya.

    Setelah memahami makna dari kata filsafat selanjutnya kita perlu memahami hakikat dari penilaian, khususnya penilaian dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Penilaian atau assessment, menurut Depdikbud adalah suatu kegiatan yang berisi mengenai berbagai informasi yang berkesinambungan dan menyeluruh mengenai proses dan hasil pembelajaran yang telah dicapai siswa. Penilaian bersifat menyeluruh, mencakup seluruh aspek dalam pembelajaran seperti aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai. Artinya dalam penilaian bukan hanya berisi tentang pemahaman siswa tentang suatu materi saja, lebih dari itu penilaian mencakup seluruh aspek dalam pembelajaran. Menurut Gronlund dalam Arifin (2011), Penilaian merupakan serangkain  kegiatan  yang  sistematis  mulai dari pengumpulan data,  analisis,  dan  interpretasi data/informasi mengenai sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran. Artinya penilaian merupakan proses yang sistematis untuk mengumpulkan informasi tentang hasil belajar baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai nilai, serta tingkat pencapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran untuk  pengambilan keputusan dengan kriteria dan pertimbangan tertentu dalam membuat keputusan tentang nilai, kenaikan kelas, dan kelulusan peserta didik. Pengambilan keputusan harus senantiasa mengarahkan peserta didik untuk melakukan perbaikan dalam pencapaian hasil belajar. Dari berbagai definisi yang telah disebutkan, dapat  diambil kesimpulan bahwa filsafat penilaian pendidikan Bahasa inggris adalah pengkajian dan pemikiran secara mendalam mengenai penilaian dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk menemukan indikator  yang  menyebabkan  berhasil  atau  tidaknya  pencapaian  tujuan  dari  pembelajaran tersebut. Sehingga nantinya dapat dijadikan bahan kajian berikutnya dalam melaksanakan pembelajaran.  Pembahasan  mengenai  filsafat  penilaian  pendidikan  Bahasa  inggris  sangat menarik untuk dibahas dan tentunya tidak terlepas dari landasan-landasan yang digunakan dalam penelaahan filsafat mengenai ontology, epistemology dan aksiologi.

    


Sumber: Pinterest.com

    Tujuan pembelajaran Bahasa Inggris seperti yang disebutkan dalam Kurikulum 13 yaitu; (1) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa inggris baik lisan maupun tulis. Kemampuan tersebut meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading),  dan  menulis  (writing); (2)  Menumbuhkan  kesadaran  akan  hakikat  dan pentingya bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar; (3) mengembangkan pemahaman keterkaitan antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian siswa memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya. Terkait dengan tujuan pembelajaran Bahasa Inggris ini, dalam melakukan penilaian guru harus memahami perbedaan penilaian antara kemampuan skill writing, speaking, listening dan reading. Dengan pembelajaran berorientasi pada pengembangan keterampilan berbahasa, sistem penilaian dalam pembelajaran bahasa Inggris seharusnya juga menjadikan keterampilan berbahasa sebagai dasar untuk pengembangan penilaiannya. Dalam penilaian, yang penting ialah guru menilai penggunaan bahasa untuk melihat apakah kompetensi komunikatif sudah tercapai atau belum. Bachman (1991) memberi istilah kompetensi komunikatif dengan istilah kecakapan berbahasa (language ability), hal inilah yang  seharusnya diukur dalam tes berbahasa. Sehingga, dalam pembelajaran diarahkan untuk penguasaan keempat  ketrampilan berbahasa tersebut agar siswa mampu berkomunikasi. Contohnya, untuk ketrampilan speaking, pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kompetensi peserta didik melakukan tindak tutur seperti   membuka   percakapan,   meminta   tolong,   menyapa,   mengungkapkan   kegembiraan, meminta maaf dan ekspresi lainnya dalam Bahasa inggris dengan konteks tertentu. Penilaian Bahasa seharusnya berdasarkan apakah kompetensi komunikatif sudah tercapai atau belum. 

    Dalam  pelaksanaannya,  banyak  guru  masih  melakukan  penilaian  berdasarkan  unsur- unsur Bahasa (language forms)  bukan berdasarkan fungsi Bahasa (language functions) yang seharusnya memiliki proporsi sama, tugas-tugas penilaian yang diberikan cenderung dalam konteks kelas yang seharusnya konteks sehari-hari di mana bahasa target banyak digunakan, kegiatan pembelajaran dan penilaian cenderung terpisah sehingga penilaian dilakukan terkesan formal.

    Meskipun siswa di Indonesia mempelajari Bahasa Inggris sejak sekolah dasar hingga di perguruan tinggi, Bahasa inggris sebagai Bahasa asing masih sulit untuk dikuasai. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, contohnya Bahasa inggris yang hanya dipelajari di sekolah namun tidak dipraktekkan dikehidupan sehari-hari. Pembelajaran disekolah terlalu  terpaku  pada text  book  namun tidak  dikaitkan  denga konteksnya.  Siswa  yang  hafal banyak vocabulary tidak menjamin bahwa siswa tersebut mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, siswa yang menguasai tenses dan tata Bahasa dalam Bahasa inggris tidak menjamin pula bahwa siswa tersebut  mampu  menggunakannya  dengan tepat.  Jadi untuk  menguasai Bahasa sehingga menjadi kompetensi yang komunikatif, seorang pembelajar harus menggunakan Bahasa tersebut dikehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran Bahasa inggris era ini, guru bukan lagi sebagai centered of learning, dimana guru sebagai sumber utama dalam pembelajaran. Didalam kelas, guru adalah sebagai fasilitator dalam pembelajaran.  Guru harus mampu  memfasilitasi siswa untuk aktif didalam pembelajaran. Sedangkan diluar kelas seiring dengan perkembangan yang ada, siswa dapat dengan mudah mengakses sumber dan media belajar dari internet.

    Dalam belajar bahasa inggris, kosakata (vocabulary) sangat memiliki peranan penting. Semakin banyak kosakata yang kita miliki akan semakin mudah kita memahami pembicaraan atau tulisan orang lain dalam bahasa itu dan semakin mudah pula kita dapat mengemukakan isi fikiran kita dalam bahasa itu secara lisan maupun tulisan.  Sebaliknya, semakin sedikit kosakata bahasa Inggris yang kita miliki, akan semakin sulit kita memahami pembicaraan atau tulisan orang lain dalam bahasa Inggris dan akan semakin sulit pula kita mengungkapkan isi fikiran dalam bahasa Inggris, secara lisan maupun tulisan. Vocabulary adalah masalah  yang sangat signifikan bagi siswa. Kebanyakan orang berpendapat bahwa vocab harus dihafal, namun yang sebenarnya adalah vocab itu tidak harus dihafalkan melainkan dipahami. Pada awalnya kita hanya mengetahui kata ini artinya itu, kata itu artinya ini. Kita tidak lebih memahami makna sebenarnya. Misalnya kata “look” yang kita tau look itu artinya melihat. Tapi bila ditambahkan kata lain dibelakang atau didepannya look itu bisa berubah total maknanya. Misalnya kata “look” apabila diikuti kata “for” menjadi “look for” maka artinya menjadi “mencari”. Maka dari contoh kasus ini kita dapat menyimpulkan bahwa kosa kata bukanlah hanya sekedar untuk dihapal akan tetapi untuk dipahami dan dimengerti dalam penggunaannya di konteks yang tepat dalam situasi yang tepat.

    Pada akhirnya tujuan dari pembelajaran Bahasa  adalah untuk berkomunikasi secara aktif, baik secara lisan maupun tulisan sesuai konteksnya. Contohnya setelah mengetahui dan memahami ekspresi meminta maaf dalam Bahasa inggris, siswa mampu mempraktekkanya dikehidupan sehari-hari berdasarkan situasi yang terjadi. Apakah dalam situsi formal atau informal, atau apakah diucapkan kepada yang lebih tua atau yang sebaya. 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. (2011). Evaluasi Pembelajaran (prinsip, teknik, prosedur). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Bachman,  L.F.  (1991).  Fundamental  Considerations  in  Language  Testing.  Oxford: Oxford University Press


Filsafat Pendidikan Matematika

  


sumber: pinterest.com

Berikut terdapat 16 aktifitas yang akan dibahas; masing-masing ke 16 aktivitas ini memiliki pembagiannya masing-masing pula. Dengan demikian akan dilihat bagaimana perbadaan dan implikasinya terhadap pendidikan. Yang pertama yaitu pembahasan tentang Ideology Pendidikan, yaitu diantaranya ada Ideologi Radikal, Konservatif, Liberal, Humanis, Progresif, Sosialis, dan Demokrasi. Diawali dengan ideologi radikal yang berkembang semakin baik hingga puncaknya adalah ideologi Demokrasi. O’Neill (1981) membagi ideologi pendidikan menjadi 2 dua kelompok, yaitu pertama ideologi konservatif dan liberal. Ideologi konservatif meliputi ideologi pendidikan fundamentalisme, ideologi pendidikan intelektualisme, dan ideologi pendidikan konservatisme. Ideologi liberal meliputi ideologi pendidikan liberalisme, pendidikan liberasionisme, dan ideologi pendidikan anarkisme. Menurut Aprison (2012) pada dasarnya ideologi pendidikan baik konservatisme, liberalisme, anarkisme, kritisisme, maupun rekonstruksionisme adalah humanisme, tentunya dengan karakteristiknya masing-masing. Ideologi pendidikan konservatisme menganggap bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan struktur dan sistem sosial serta pola-pola berikut tradisi-tradisi yang sudah mapan. Ideology ini mengedepankan nilai-nilai agamis dan kultural. Pendidikan harus menanamkan suatu keakraban antara anak dengan elemen-elemen spiritual dari alam. Pendidikan harus menekankan keharmonisan yang dibawa sejak lahir antara manusia dan alam/universe. Implikasi dari ideologi ini terhadap proses belajar mengajar akan membuat siswa mampu mengenali dan memaknai alam sekitarnya, bersikap sesuai kultur dan nilai-nilai yang dijunjung.

Sedangkan, Ideologi pendidikan liberal bertujuan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara membelajarkan setiap siswa sebagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Ideologi pendidikan liberal ini berbeda-beda dalam hal intensitasnya, dari yang relatif lunak, yakni liberalisme metodik yang diajukan oleh teoretisi seperti Maria Montessorimo, ke liberalisme direktif (lebih mengarahkan) yang sarat dengan muatan filosofi John Dewey hingga ke liberalisme non direktif atau liberalisme laissez faire, yang merupakan sudut pandang A.S. Neill atau Carl Rogers (O’Neill, 1981:66). Implikasi ideology liberal terhadap pembelajaran adalah  siswa akan lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan pemecahan masalah-masalah yang diberikan. Dengan penerapan ideology ini siswa akan terbiasa memecahkan masalah sehingga menjadi lebih mandiri dan nantinya mampu untuk bersaing didunia kerja.

Ideology pendidikan progressive sendiri memandang siswa sebagai makhluk sosial yang aktif, sehingga proses pembelajaran harusnya relevan dengan situasi kehidupan nyata siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan dari kurikulum 2013 saat ini. Bagi masyarakat demokratis, pendidikan merupakan komponen vital. Dikatakan demikian karena atribut-atribut warga negara yang demokratis dibina melalui pendidikan. Berbeda dengan masyarakat otoriter yang menuntut penerimaan warga secara pasif (passive acceptence), tujuan pendidikan demokrasi adalah menghasilkan warga negara yang merdeka, berpikir kritis dan sangat familiar dengan pandangan dan praktek-praktek demokrasi. Menurut saya ideologi demokrasi adalah ideology yang paling ideal digunakan dalam proses pembelajaran, hal ini dikarenakan ideology ini relevan dengan kurikulum dan pembelajaran abad 21 saat ini, dimana lembaga pendidikan diharapkan dapat mencetak generasi-generasi yang siap menghadapi tantangan industri 4.0

Aktivitas kedua adalah hakikat dari pendidikan, hakikat pendidikan sendiri terdiri dari obligation, preserving, exploiting, transforming, liberating, needs, democracy dan lain-lain. Sejalan dengan ideology pendidikan, bagian dari hakikat pendidikan juga merentang dari obligasi hingga puncaknya adalah demokrasi.  Demokrasi diasumsikan sebagai bentuk ideal dari hakikat pendidikan. 

Aktivitas ketiga adalah pengetahuan tentang mata pelajaran, pengetahuan tentang mata pelajaran terdiri dari body of knowledge, science of truth, structure of truth, process of thinking and social activities. Menurut saya keempat bagian dalam aktivitas ini berkesinambungan satu sama lain, namun process of thinking dan social activities menjadi bagian terbaik didalam aktivitas ketiga ini. Pembelajaran bukan hanya kegiatan monotan dan procedural dimana guru menerangkan didepan kelas, memberi contoh, memberi latihan, dan kemudian memeriksa jawaban siswa. Peran guru lainnya adalah membantu siswa dalam membantu siswa mengungkapkan proses yang berjalan dipikirannya ketika menyelesaikan suatu masalah. Guru harus membantu dan memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaikan apa yang ada didalam pikirannya supaya tidak terjadi kesalahan berpikir dalam memahami suatu materi. Implikasinya terhadap pembelajaran adalah pembelajaran akan lebih efektif dan siswa akan benar-benar memahami sebuah materi bukan hanya sekedar hafalan. Selanjutnya yaitu aktivitas sosial yang menurut saya sangat penting untuk dilakukan dalam pembelajaran. Aktivitas sosial akan membantu siswa untuk membentuk ketrampilan sosial (social skill) agar siswa dapat belajar bagaimana menyesuaikan diri dilingkungan masyarakat sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa social skill adalah salah satu skill terpenting yang harus dimiliki seseorang baik di lingkungan masyarakat, sekolah, university, ataupun dunia kerja. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh banyak peneliti, bahwa social skill juga sangat berpengaruh terhadap hasil akademik siswa. Siswa yang memiliki social skill yang bagus biasanya juga memiliki hasil akademik yang bagus, begitupula sebaliknya. Untuk mengasah social skill siswa salah satunya adalah dengan aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukan selama pembelajaran. 

Aktivitas keempat adalah aktivitas dalam mata pelajaran, yaitu terdiri dari mencari pola dan hubungan, memecahkan masalah, investigasi dan komunikasi. Pemecahan masalah adalah aktivitas yang harus dilakukan dalam pembelajaran, baik dalam pelajaran matematika atau pelajaran lainnya. Dengan aktivitas pemecahan masalah, siswa tidak hanya mengandalkan teori saja, siswa akan menggunakan daya nalar, pengetahuan, ide dan konsep-konsep materi tersebut. Pemecahan masalah sendiri adalah suatu usaha untuk mencari jalan keluar dari suatu kesulitan. Dalam memecahkan masalah, siswa harus memetakan pengetahuan mereka, mengumpulkan informasi yang relevan, memeriksa ulang dan melalui proses-proses tersebut mereka akan mengembangkan pengetahuan baru tentang materi tersebut. Soedjadi menyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupannya banyak ditentukan oleh kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Maka dapat disimpulkan, Implikasi dari aktivitas ini didalam pembelajaran adalah mempertajam analisis siswa, membiasakan siswa untuk menyeleksi informasi-informasi, dan membantu siswa untuk menemukan pengetahuan baru. Aktivitas investigasi sesungguhnya tidak bisa terlepas dari pemecahan masalah. Aktivitas investigasi ini menekankan partisipasi dan aktivitas siswa secara maksimal mulai dari merencanakan topik-topik yang akan dipelajari, perencanaan pelaksanaan investigasi hingga presentase materi. Aktivitas ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.

James A.F Stoner dalam Widjaja (2012) mengatakan komunikasi adalah proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan. komunikasi sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka. Dalam belajar, komunikasi adalah proses pengiriman informasi dari guru kepada siswa untuk tujuan tertentu. Komunikasi dikatakan efektif apabila komunikasi yang terjadi menimbulkan arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif.  Pembelajaran dapat dimaknai sebagai interaksi antara guru dengan siswa yang dilakukan secara sengaja dan terencana serta memiliki tujuan positif. Keberhasilan pembelajaran harus didukung oleh komponen-komponen instruksional yang terdiri dari pesan berupa materi belajar, penyampai pesan yaitu guru, bahan untuk menuangkan pesan, peralatan yang mendukung kegiatan belajar, teknik atau metode yang sesuai, serta latar atau situasi yang kondusif bagi proses pembelajaran. 

Aktivitas kelima adalah moral dalam pembelajaran yaitu terdiri dari hirarki paternalistik, kemanusiaan, keadilan/ kebebasan, dan lain-lain. Dalam kamus KBBI paternalistik adalah sistem kepemimpinan yang berdasarkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, seperti hubungan antara ayah dan anak. Sedangkan Humanity atau kemanusiaan berarti penanaman nilai-nilai moral kemanusiaan didalam pembelajaran tersebut. John Dewey (dalam Elmubarok,2008) bahwa tujuan utama pendidikan adalah sebagai penggerak efisiensi sosial, pembentuk kebijakan kewarganegaraan (civic virtue) dan penciptaan manusia berkarakter. Implikasi dari nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan dalam pemelajaran akan membentuk siswa menjadi manusia yang berkarakter. Selain itu, nilai-nilai keadilan juga perlu ditanamkan oleh guru kepada siswa melalui pembelajaran. Guru dapat menanamkan nilai-nilai keadilan melalui materi pembelajaran, pencontohan ataupun secara real life. Dari aktivitas-aktivitas yang telah disebutkan diatas, menurut saya aktivitas yang paling ideal untuk diterapkan adalah kemanusiaan dan keadilan. 

Aktivitas keenam adalah nilai dalam mata pelajaran, terdiri dari intrinsik, ekstrinsik dan sistematik. Menurut saya yang paling ideal dalam aktivitas ini adalah sistematik. Sistematik adalah segala usaha untuk menguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya. Dengan penilaian yang sistematik, maka nilai yang akan diberikan oleh guru dan akan diterima oleh siswa dapat dipertanggung jawabkan. Penilaian sistematik berarti nilai bukan berasal hanya dari satu aspek saja, namun keseluruhan aspek. Hal ini juga sesuai dengan prinsip-prinsip nilai itu sendiri, sehingga nilai yang didapatkan dapat menjadi evaluasi untuk guru dan siswa.

Aktivitas ketujuh adalah hakikat siswa, yaitu terdiri dari sesuatu yg masih kosong, membangun karakter, kreativitas, pertumbuhan, dan lain-lain. Menurut saya membangun karakter adalah hal yang paling ideal dalam hal ini. Karakter adalah hal dasar yang harus dibangun dari seorang siswa. Seperti salah satu tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Implikasinya terhadap pembelajaran yaitu dengan membangun karakter siswa hasil pembelajaran akan lebih bermakna. Hasil pembelajaran bukan hanya tentang nilai diatas kertas, namun bagaimana siswa dapat mengaplikasikan pembelajaran tersebut dan mengevaluasinya.

Aktivitas kedelapan adalah hakikat kemampuan siswa, yaitu terdiri dari bakat, usaha, kebutuhan, kompetensi, budaya, kontekstual, dan lain-lain. Dari keenam hal tersebut antara satu sama lain adalah saling berkaitan contohnya seseorang yang sudah memiliki bakat menyanyi sejak lahir, apabila ia tidak pernah berusaha untuk mengasah bakatnya tersebut, maka bakat tersebut tidak akan berkembang. Bakat sendiri adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dimana kemampuan tersebut sudah melekat dalam dirinya. Dalam hal ini yang paling ideal menurut saya adalah usaha, siswa yang memiliki usaha lebih tentu dia akan mampu melampaui teman-temannya yang tidak ada usahanya, meskipun mungkin teman-temannya tersebut memiliki bakat atau unggul  diawal. Seperti kata pepatah bahwa hasil akhir tidak akan menghianati usaha. Oleh karena itu, sebenar-benar kemampuan siswa adalah dilihat dari usahanya atau prosesnya.

Aktivitas kesembilan adalah tujuan dari mata pelajaran, yaitu terdiri dari aritmatika, sertifikasi, transfer pengetahuan, kreativitas, untuk mengembangkan kemampuan secara komprehensif. Tujuan dari pembelajaran tentunya  bukan hanya sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan saja, namun lebih kompleks dari itu. Menurut saya yang terbaik dari beberapa yang telah disebutkan diatas adalah kreativitas. Rahayu (2013: 30) mengatakan bahwa kreativitas belajar siswa adalah kemampuan siswa menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemampuan mengembangkan informasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya

Aktivitas kesepuluh adalah hakikat dari pembelajaran, yaitu terdiri dari kerja keras/latihan/menghafal, berpikir dan praktek, memahami dan mengaplikasikan, mengeksplorasi, diskusi/mandiri. Yang terbaik menurut saya adalah diskusi, diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih tentang satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Dengan diskusi siswa tidak hanya aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri, dengan diskusi siswa akan belajar bagaimana menyampaikan pendapat, bertukar pendapat, mengeksplorasi materi lebih luas, melihat satu hal dari sudut pandang berbeda. Implikasinya terhadap pembelajaran itu sendiri adalah diantaranya pembelajaran akan semakin menarik selain itu dengan diskusi siswa juga berlatih untuk berpikir kritis.

Aktivitas kesebelas adalah hakikat dari pengajaran, yaitu terdiri dari transfer pengetahuan, motivasi eksternal dan internal, pembangunan, diskusi, investigasi, perkembangan, memfasilitasi, ekspositori. Menurut saya yang paling relevan dengan hakikat pengajaran saat ini adalah memfasilitasi. Guru dalam artian luas bukan saja sekedar pengajar, guru harus berperan sebagai motivator, fasilitator, organisator, developer, evaluator sekaligus monitor. Guru sebagai fasilitator berarti guru memfasilitasi pembelajaran yang berlangsung pada siswa, sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang nyata dan otentik. Dengan memfasilitasi pembelajaran, berarti guru berusaha mengajak dan membawa seluruh peserta didik untuk berpartisipasi. 

Aktivitas kedua belas adalah teori pembelajaran mata pelajaran, yaitu terdiri dari ekspositori, pemecahan masalah, menghafal, drill, diskusi, praktek kelompok, mengembangkan, memfasilitasi. Menurut saya yang terbaik adalah facilitating, dimana seorang guru memfasilitasi proses belajar siswanya. Untuk memfasilitasi pembelajaran untuk siswa, guru harus memiliki pengetahuan tentang kelemahan dan kekuatan siswanya, memiliki kepedulian kepada seluruh siswa, menyadari hak belajar siswa, memahami perbedaan dari setiap siswa, mampu mengatur kelas agar pembelajaran berjalan efektif, memiliki tugas yang kompleks seperti melakukan penilaian dan perencanaan pembelajaran secara baik. Dengan guru memfasilitasi pembelajaran kepada siswa, maka pemeblajaran akan berjalan efektif.

Aktivitas ketiga belas adalah hakikat sumber belajar mengajar, yaitu terdiri dari papan tulis/ kapur/hitung manual, alat bantu mengajar, alat bantu mengajar berupa visual untuk memotivasi, macam-macam sumber/ lingkungan, lingkungan sosial. Vernon S. Gerlach &  Donald P. Ely (1971) menegaskan pada awalnya terdapat berbagai jenis sumber belajar yaitu manusia, bahan, lingkungan, alat dan perlengkapan, serta aktivitas. Pada intinya, dengan adanya berbagai macam sumber belajar mengajar ini implikasinya untuk pengajaran adalah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara optimal. Dari berbagai pilihan yang telah disebutkan, mungkin saya akan memilih alat bantu mengajar seperti infocus dan speaker, alat bantu mengajar berupa visual seperti gambar, video, atau film, lingkungan sekitar maupun lingkungan sosial. Pemilihan sumber belajar mengajar agar dapat mendukung pencapaian kualitas pembelajaran tentunya harus memperhatikan beberapa aspek seperti motivasi, kemampuan guru, program pengajaran, kondisi lingkungan, dan yang paling penting adalah karakteristik siswa. 

Aktivitas keempat belas adalah hakikat penilaian, diantaranya external test, portofolio, sosial, dan kontekstual. Menurut saya penilaian portofolio adalah penilaian yang baik diantara yang lain. Di dalam Kurikulum 2013, dokumen portofolio dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan penilaian untuk kompetensi keterampilan. Hasil penilaian portofolio bersama dengan penilaian yang lain dipertimbangkan untuk pengisian rapor peserta didik/laporan penilaian kompetensi peserta didik.Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. Portofolio merupakan bagian dari penilaian otentik, yang langsung dapat menyentuh sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Hal ini berkaitan pula dengan rasa bangga yang mendorong peserta didik mencapai hasil belajar yang lebih baik. Guru dapat memanfaatkan portofolio untuk mendorong peserta didik mencapai sukses dan membangun harga dirinya. Maka Implikasinya secara tidakk langsung, hal ini mengakibatkan peserta didik dapat membuat kemajuan lebih cepat untuk mencapai tujuan individualnya.

Aktivitas kelima belas adalah hakikat masyarakat, yaitu keberagaman, monocultural, desentralisasi, kompetensi, multiple solution, heterogonomous, social capital, budaya lokal. Menurut saya konsep keberagaman adalah yang paling baik jika dibandingkan dengan lainnya. Keberagaman adalah variasi dari berbagai macam kombinasi elemen demokrafis sumber daya manusia, organisasional, komunitas, masyarakat, dan budaya. 

Aktivitas keenam belas adalah hakikat kurikulum, yaitu terdiri dari instrument kurikulum, berdasarkan subjek, kurikulum integrase, berdasarkan pengetahuan, berdasarkan kemampuan, individual kurikulum, interaktif kurikulum, ict based kurikulum. Berdasarkan perkembangan teknologi yang sangat pesat, menurut saya ICT based curriculum adalah salah satu kurikulum terbaik yang bisa diaplikasikan. Penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran memungkinkan kegiatan belajar mengajar lebih interaktif, simulatif dan lebih menarik.  Implikasi penerapan kurikulum berbasis teknologi ini akan mempercepat peningkatan kualitas pendidikan yang pada akhirnya dapat bersaing dengan negara-negara maju dan berkembang lainnya.

Aktivitas ketujuh belas adalah hakikat siswa mempelajari mata pelajaran, yaitu terdiri dari individual, kompetensi, motivasi, readiness, scaffolding, kolaborative, konstruk, kontekstual, enculturing. Menurut saya kontekstual dan enculturing adalah yang paling baik diantara lainnya. Menurut E. Adamson Hoebel enculturing adalah kondisi saat seseorang secara sadar ataupun tidak sadar mencapai kompetensi dalam budayanya dan menginternalisasi budaya tersebut. Dalam pembelajaran, siswa mencapai kompetensi daalam pembelajaran dan dapat menginternalisasi pembelajaran tersebut.

Aktivitas kedelapan belas adalah hakikat bagaimana mengembangkan mata pelajaran, yaitu terdiri dari subjektive, objektive, menghasilkan, reflecting, menkritisi, constructing, aktivitas sosial, attitude, content, metode, conjecture, embodiment. Menurut saya, embodiment atau perwujudan adalah hal terbaik dalam aktivitas ini. Maksudnya adalah pengembangan mata pelajaran adalah perwujudan dari tujuan pembelajaran itu sendiri. Implikasinya terhadap pembelajaran adalah pengembangan yang dilakukan dapat sesuai dengan tujuan atau visi misi dari pembelajaran tersebut.

Ruang lingkup filsafat pendidikan matematika adalah sangat luas, dimulai dari ideology pendidikan sampai dengan metode bahkan sumber pembelajaran. Oleh karenanya, sangat penting bagi seorang pengajar untuk memahaminya satu persatu agar dalam pengajaran menjadi lebih baik. 


The Critique of Pure Reason: Karya Immanuel Kant

 

sumber: pinterest.com

The Critique of Pure Reason atau bisa diartikan dengan kritik atas akal murni adalah salah satu buku yang paling terkenal dari Immanuel Kant. Immanuel Kant adalah filsuf besar yang gagasannya banyak mempengaruhi pemikiran filsafat setelahnya. Sejarah filsafat modern banyak berubah karena pemikiran dari Kant. The critique of pure reason merupakan buku yang berisi penyelidikan kritis Kant mengenai akal budi, dengan berdasarkan pada kognisi dimana ia berusaha mencapainya tanpa bantuan pengalaman, hasil pemikirannya ini adalah jawaban mengenai kemungkinan dan kemustahilan metafisika, penentuan awal pengetahuan, serta tingkat dan batas ilmu itu sendiri. Pembahasan utama didalam buku ini adalah konsep analisis transcendental. Didalam buku ini, kant juga banyak memberikan kritikan-kritikan terhadap gagasan para filsuf besar yang berpengaruh pada zamannya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena berisi pemikiran-pemikiran dan kritisisme Kant, namun untuk pemula seperti saya, buku ini sangat sulit untuk dipahami, bukan hanya karna penggunaan bahasa asing didalamnya, namun juga karna banyak menggunakan bahasa analog yang mempunyai makna khusus. Untuk memahami sedikit isi dari buku ini, pembaca harus membacanya berulang-ulang dan tidak lupa juga diperlukan bantuan kamus filsafat untuk mengetahui bahasa-bahasa filsafat. Selain itu, pembaca juga bisa membaca referensi lain berkaitan dengan buku The Critique of Pure Reason karya Immanuel Kant ini. 

Sebelum membahas tentang apa itu konsep transcendental, Kant menuliskan beberapa point-point penting untuk dibahas terlebih dahulu. Point pertama yang disampaikan didalam pendahuluan buku ini adalah tentang perbedaan pengetahuan murni dan pengetahuan empiris. Tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan kita adalah dimulai dari pengalaman. Namun meskipun begitu, bukan berarti semua pengetahuan muncul karena pengalaman. Seperti halnya pengetahuan kita tentang waktu, ini tidak dimulai dari pengalaman melainkan dimulai dengan waktu. Kant mengatakan bahwa sangat mungkin pengetahuan empiris kita adalah gabungan yang kita terima melalui kesan-kesan inderawi, dimana pengetahuan muncul dari dirinya sendiri. Pengetahuan Inilah yang dinamakan dengan apriori, apriori berarti pengetahuan yang bukan berasal dari pengalaman dan kesan inderawi. Namun kata apriori sendiri belum bisa dikatakan memadai untuk mewakili definisi tersebut. Ada kemungkinan-kemungkinan lain ketika pengetahuan itu sendiri muncul tidak secara langsung dari pengalaman. Oleh karena itu, muncul lah istilah pengetahuan apriori. Ada pengetahuan apriori murni dan yang tidak murni. Pengetahuan apriori murni berarti pengetahuan yang tidak disertai dengan unsur-unsur empiris. Suatu konsep dikatakan sebagai pengetahuan murni jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan terjadi langsung pada kenyataan. Pengetahuan murni dan pengetahuan empiris sendiri tidak bisa dibedakan secara mutlak antara satu dan lainnya, karena keduanya tidak terpisahkan satu sama lain. Hanya kebutuhan dan universalitas ketat yang dapat diasumsikan sebagai alat ukur pembeda antara pengetahuan murni dan pengetahuan empiris.

Selanjutnya perbedaan antara penilaian analitis dan sintetis. Penilaian analitis adalah penilaian yang .memiliki hubungan dengan predikat dimana subjek terkadang kita pikirkan melalui identitas; dan kadang kita pikirkan tanpa identitas. Contohnya ketika saya mengatakan “semua tubuh memanjang”, maka saya tidak perlu melampaui konsepsi tubuh untuk menemukan predikat tersebut, saya hanya perlu menyadari beberapa sifat terkait konsep tubuh tersebut. Sedangkan penilaian sintetis, adalah penilaian yang berlandaskan dari pengalaman. Contohnya ketika saya mengatakan “semua tubuh itu berat”. Kant juga mengenalkan istilah sintesis apriori yang menjadi jembatan antara empirisme dan rasionalisme. Sintesis apriori adalah sintesis yang permyataannya bergantung pada suatu pengalaman tertentu tetapi sebenarnya pernyataan lain sudah ada sebelumnya. Syarat pembentukan putusan sintesis apriori adalah perlunya putusan memiliki forma (form) dan materi (matter). Forma mewakili unsur universal dan niscaya, sedangkan materi mewakili data empiris. 

Kant menyajikan putusan sintesis apriori ini kedalam tiga bagian yaitu estetika transcendental, analitika transcendental, dan dialektika transcendental. Pada bagian estetika  transcendental, Kant menyelidiki unsur-unsur pengetahuan yang masuk akal mengacu pada suatu bentuk apriori ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah subjektif, aritmatika dan geometri kemudian didasarkan pada ruang dan waktu. Berikut sifat-sifat Ruang menurut Kant berdasarkan dari konsepsi tentang Geometri. Ruang tidak mempresentasikan setiap sifat objek sebagai sesuatu  yang ada dalam diri mereka, juga tidak mempresentasikan mereka dalam hubungan mereka satu sama lain, Ruang tidak bersifat apriori, Ruang hanyalah bentuk dari semua fenomena dari indera eksternal, yaitu kondisi subjektifitas dan sesibilitas. Jika Ruang bersifat tidak apriori, maka sebaliknya waktu adalah kondisi formal apriori dari semua fenomena,waktu bukanlah sesuatu yang hidup dalam dirinya sendiri atau yang melekat pada benda-benda sebagai sebuah ketentuan objektif, karena itu waktu tetap ada ketika abstraksi dibuat dari kondisi subjektif dari intuisi tentang benda. Maka dapat diartikan bahwa waktu adalah bentuk perasaan internal yang berasal dari intuisi diri.

Sedangkan pada bagian analitika transcendental, Kant menyelidiki ke dalam pengetahuan intelektual. Obyeknya adalah dunia fisik, dan ruang lingkupnya adalah membuktikan “fisika murni” (mekanik) sebagai ilmu yang sempurna. Analitik transendetal adalah diseksi seluruh pengetahuan apriori kita ke dalam unsur-unsur kognisi murni dalam pemahaman. Seluruh bagian dari analitik transcendental ini adalah terdiri dari dua fakultas, yaitu berisi konsepsi dan prinsip-prinsip umum. Prinsip-prinsip sintetis dalam pemahaman murni tidak hanya kemampuan mental dalam memahami aturan namun merupakan sumber dari prinsip-prinsip dimana segala sesuatu dapat direpresentasikan kepada kita sebagai objek yang yang tunduk pada aturan. Semua fenomena dalam hal bentuk mengandung intuisi dalam ruang dan waktu, yang terletak secara apriori didasar semua hal tanpa kecuali. Persepsi suatu objek sebagai fenomena hanya mungkin melalui kesatuan sintesis dari berbagai intuisi inderawi yang diberikan, dimana semua fenomena adalah kuantitas yang berjumlah banyak, karena sebagai intuisi dalam ruang dan waktu. Persepsi adalah kesadaran yang berisi unsur penginderaan atau kesadaran empiris. Objek persepsi atau fenomena hanya merupakan intuisi formal seperti ruang dan waktu. Oleh karenanya fenomena sebagai objek persepsi tidaklah intuisi murni. Intuisi murni berarti sepenuhnya merupakan produk dari pikiran itu sendiri, dengan demikian maka dapat dikenali dalam diri mereka sendiri. Pengalaman adalah sebuah kognisi dari objek-objek melalui persepsi, pengalaman adalah sintesis dari persepsi. Oleh karena itu hubungan berbagai eksistensi tentu direpresentasikan dalam pengalaman tidak seperti yang disatukan dalam waktu, tetapi secara objektif dalam waktu. 

Pada bagian dialektika transcendental, yaitu tentang realitas yang melampaui pengalaman kita; yaitu esensi Allah, manusia dan dunia. Semua pengetahuan kita dimulai degan indera, hasil dari pemahaman, dan berakhir dengan akal budi. 

Secara garis besar, seperti yang dituangkan Kant didalam kata pengantar di edisi pertama bahwa pengetahuan dari akal pikiran manusia bersifat alami dan tidak bisa ditolak sebagaimana hal ini muncul dengan sendirinya. Tidak ada jawaban dari pertanyaan tentang ini, sebagaimana mereka transend kesetiap fakultas dipikiran. Menurut Kant, transenden adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman. Transenden memiliki makna yang berbeda dengan transcendental. Apa itu transcendental menurut Kant? Transcendental adalah syarat-syarat yang memungkinkan pengetahuan yang inderawi, yakni struktur a priori pikiran manusia itu sendiri. Kant mengemukakan bahwa struktur apriori tidak perlu pembelajaran karna sudah ada sejak awal secara alami dan menjadi pra asumsi untuk kita menyerap knowledge. Apriori artinya tidak didapat karna pengalaman, apriori memungkinkan terjadinya pengalaman. Hal ini sangat bertolak belakang dengan teori empirisme David Hume. Kant berpendapat bahwa a priori sintetik adalah hal yang sangat esensial karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. Sehingga pertanyaannya adalah bagaimana pengetahuan itu mungkin? Bagaimana struktur didalam pemikiran manusia yang memungkinkan pengetahuan itu terjadi? Inilah pertanyaan transcendental yang ingin diteliti oleh Immanuel Kant. 

Menurut Kant, Pengetahuan hanya mungkin jika ada objek inderawi yang terberi kepada kita dengan kategori adanya ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah a priori, ruang dan waktu menurut Kant bukan yang terdapat pada jam dan kalender, melainkan ruang dan waktu yang adanya dipikiran kita. Kita bisa mengatakan “meja ini besar” besar adalah ruang, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan kata “besar” jika tidak ada kata “besar” dipikiran kita. Begitu pula dengan waktu, bagaimana kita dapat mengandaikan kategori ruang dan waktu, ini pertanda bahwa sudah ada ruang dan waktu dipikiran kita. Jika objek tersebut telah terberi kepada kita, itu bukan pengetahuan atau pengalaman. Ini masih kesan inderawi yang harus diproses oleh pikiran kita. Poin utama dari pemikiran Kant tentang konsep transcendental ini adalah, menurut Kant ada 12 kategori transcendental, dimana kategori ini adalah syarat-syarat pengetahuan itu mungkin. Diantaranya adalah kategori kualitas, kuantitas, jumlah, kesatuan, dan kategori lainnya. Bagaimana Kant bisa menjelaskan terkait 12 syarat pengetahuan serta ruang dan waktu adalah dengan mengandaikannya. Dimana untuk mengetahui bagaimana pengetahuan itu mungkin maka harus diterima 12 syarat tersebut. Meskipun ke 12 syarat ini tidak bisa dibuktikan dengan observasi, mau tidak mau harus menggunakan syarat-syarat ini untuk mengetahui bagaimana pengetahuan itu mungkin. Inilah yang dinamakan pengetahuan transcendental. 

Kemudian bagaimana tanggapan Kant mengenai Tuhan? Kant berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan adalah tidak mungkin. Kita tidak bisa berbicara mengenai Tuhan seakan-akan Tuhan adalah objek empiris yang bisa dilihat. Namun bukan berarti Kant menyangkal keberadaan Tuhan. Kant juga mengkritisi filsuf-filsuf sebelumnya yang berupaya untuk membuktikan adanya Tuhan dalam filsafat. Pengetahuan kita adalah terbatas, maka adalah sebuah penghinaan jika kita mencoba mengetahui Tuhan sebagaimana objek Empiris. 

Kesimpulan dari buku ini adalah bagaimana Kant berusaha mengetahui struktur bagaimana pengetahuan itu mungkin dengan a priori. Konsep yang coba dikenalkannya disebut juga dengan konsep transendental. Namun meskipun begitu, ada hal-hal yang tidak bisa dipikirkan oleh akal yaitu pengetahuan tentang Tuhan dan sebagainya. Menurut Kant pengetahuan tentang Tuhan adalah tidak mungkin, karna pikiran manusia adalah terbatas. Pengetahuan kita terbatas sehingga tidak akan mencapai realitas metafisik (numena). 


HIDUP MANUSIA ITU METAFISIKA

 

sumber: pinterest.com

Apa itu metafisika?

Metafisika adalah segala sesuatu dibalik semua yang ada. Manusia adalah ada, bisa dilihat secara kasat mata. Lalu apa sesuatu dibalik hidup manusia? Apa itu metafisika dari hidup manusia?

Awal dari segala kehidupan manusia adalah fatal dan vital. Fatal berarti terpilih, terpilih berarti takdir. Artinya fatal adalah hal-hal yang sudah menjadi takdir dari manusia. Disinilah muncul metafisika itu, yaitu sifat-sifat yang mengikutinya. Takdir bersifat tetap, berarti tidak berubah. Manusia manapun tidak akan ada yang bisa merubah takdir yang sudah merupakan ketetapan. Sifat selanjutnya yang mengikutinya adalah ideal (Idealism), Absolute (Mutlak), Spiritualism, Kuasa tuhan (Causa Prima), Definisi (Asumsi), Logika (Logicism). Logika (Logicism) berarti berlakulah semua sifat-sifat yang telah disebutkan diatas. Logika berarti Koheren (Coherentism) contohnya ketika kita menemukan kata wanita maka secara otomatis kita akan memikirkan kata lainnya yang masih terhubung dengan kata tersebut, seperti perempuan, ibu, dan melahirkan. Logikanya adalah wanita, perempuan adalah koheren, ibu adalah analitik. Selanjutnya adalah konsisten. Konsisten adalah apa yang dipikirkan dan bukan yang bisa disentuh dengan indra. Pikiran akan menghasilkan aksioma. Yang tetap adalah hukum, dan hukum tertinggi adalah causa prima. 

Vital mencakup didalamnya sesuatu yang tidak tetap atau bisa berubah. Memilih berarti ikhtiar atau ada usaha didalamnya. Bagaimana dengan sifat-sifat yang mengikutinya? Jika tetap adalah langit maka berubah adalah bumi, jika tetap adalah dewa maka berubah adalah darsa, jika tetep adalah a priori maka berubah adalah a posteori. Tetap berarti A= A, sedangkan berubah berarti A ≠ 1. Jika tetap adalah logika maka berubah adalah hukum alam. Jika tetap adalah pikiran maka berubah adalah pengalaman. Jika tetap adalah analitik maka berubah adalah sintetik.

R. Decrates (1596 – 1650) mengatakan kebenaran adalah datangnya dari akal manusia atau sering juga disebut dengan teori rasionalisme. Namun pemikiran R.Decrates ditentang oleh D. Hume yang mengatakan bahwa pengetahuan itu bersumber dari pengalaman dan bukan dari rasio. Setelah pertempuran antara keduanya muncul lah pemikiran seorang filsuf modern Immanuel Kant yang mengatakan bahwa sesungguhnya sebaik-baik ilmu adalah perkawinan antara langit dan bumi. Buminya adalah sintetik dan langitnya adalah a priori.

Seiring dengan berkembangnya pemikiran para filsuf, muncul seorang tokoh bernama A. Compte yang mengatakan bahwa agama tidak bisa dipakai untuk membangun dunia karena tidak logis. A. Compte menuangkan pikirannya dalam buku karangannya yang berjudul Positivism. Dalam bukunya ini, beliau menggambarkan agama pada urutan terbawah, setelah metafisika dan positivism. Begitulah bagaimana ilmu filsafat terus berkembang.